Apa inti dari story point ?

Inti dari story point adalah Estimasi.

Estimation is a rough calculation of the value, number, quantity, or extent of something.

artinya :

Estimasi adalah perhitungan kasar untuk nilai, jumlah, kuantitas, atau tingkatan sesuatu.

Perhitungan kasar story point bisa dimisalkan seperti Rough Order of Magnitude atau Conceptual Estimate di konsep project management.
Dimana yang dilakukan adalah screening detail terhadap story task dan membandingkan dengan story task yang pernah dikerjakan sebelumnya.

Metoda umumnya adalah , baca detail story task, pahami, bandingkan dengan story task yang sudah ada, lalu estimasi.
(lihat Tipe estimasi)

Bagaimana Prakteknya selama ini ?

Apa yang sering terjadi dalam menentukan story point :

  1. Bertengkar tentang story point.
    Ini bisa sering terjadi ketika beberapa orang di dalam tim berbeda pendapat mengenai story point untuk sebuah story task.

    Kembali lagi kepada konsep story point bahwa itu hanya alat untuk estimasi. Bertengkar tentang berapa seharusnya story point untuk sebuah story task sebenarnya tidak produktif. Dengan memberikan kesempatan kepada masing-masing pihak untuk mengemukakan alasan logisnya dalam memilih story point tersebut, maka hal itu akan lebih adil.
    Setelahnya anggota tim memilih kembali story point yang tepat untuk story task tersebut.

    Berdasarkan pengalaman penulis, kalau ternyata masih terdapat perbedaan, maka ambil voting terbanyak, atau ambil nilai terbesar, tergantung kebijakan dari setiap tim.

  2. Tidak peduli dengan story point.
    Walaupun story point hanyalah estimasi, akan tetapi tetaplah diperlukan sebagai alat ukur yang perlu dibandingkan dengan kapasitas/kemampuan dari tim.
    Tidak melakukan estimasi dengan story point, artinya sprint tersebut cenderung akan dilihat cuma sebagai formalitas semata. Yang penting jadi dan semua story task selesai. Itu adalah jargon Project Management, bukan lagi Agile

    Tetapi memang ada kondisi dimana story point dianggap tidak perlu lagi, ketika tim sudah mampu melakukan estimasi kasar yang tepat terhadap pekerjaan dan kapasitas tim. Di saat inilah, story point dianggap tidak diperlukan lagi.

  3. Rentang story point yang jauh dari setiap anggota tim.
    Penentuan story point biasanya (misalnya untuk planning poker) dilakukan dengan meminta semua anggota tim mengajukan pointnya secara bersamaan.

    “Ayo kita estimasi, 1, 2, 3” , lalu semua anggota tim akan menunjukkan kartu atau jari tangan atau tulisan berisikan nilai story point yang dianggapnya sesuai. Ada yang story pointnya 1,2,3, 5, 8, dst.

    Yang menjadi permasalahan adalah ketika rentang story point nya terlalu jauh.
    Misalnya si Badu nilai story pointnya adalah 3, si Ani story pointnya 8, si Badu 1, dan si Joko 13.

    Apa yang kita lihat dari sini ?

    Ini artinya tidak semua anggota tim mengetahui secara detail mengenai story task nya.
    Bisa jadi karena story nya tidak dijelaskan, tidak detail, atau anggota tim tidak mengerti maksud dari story nya ini.

    Merupakan tugasnya Product Owner untuk menjelaskan maksud dari story nya tersebut. Dengan penjelasan yang lebih detail dan dipahami oleh anggota tim, maka anggota tim dapat melakukan kembali penentuan story point untuk story tersebut dengan lebih mudah dan mencapai kesepakatan yang lebih tepat.

Kesimpulan

Inti dari story point adalah Estimasi.

Sehingga perlakukan saja sebagai estimasi, yaitu sesuatu yang mendekati saja, bukan hal yang mesti betul dari awal. Tidak lah perlu bertengkar dan ngotot terhadap story point nya tersebut. Memahami detil tentang story task, jujur dalam estimasi, dan negosiasi antara anggota tim yang berbeda pendapat tentang story point merupakan tindakan yang tepat.