Pendahuluan

Hari ini saya tertarik dengan masalah Prejudice.

Gara-gara melihat sebuah video youtube mengenai debat antara siswa tingkatan SMA dari beberapa negara di Amerika Serikat pada tahun 1956.

Bukan hanya karena isi videonya, akan tetapi ternyata ada orang Indonesia di video tersebut yang ikut berdebat.

Sangat mencengangkan ketika melihat ternyata ada orang Indonesia yang sudah mengikuti kegiatan seperti ini di luar negeri pada tahun segitu.

Dan beliau adalah Ratnati Iskandar Dinata, anak dari salah satu pahlawan Indonesia, Otto Iskandar Dinata, yang juga dijuluki si Jalak Harupat (yang dijadiin nama stadion bola di Bandung)

Ibu Ratnati ini memenangkan tiket ke event World Youth Forum, New York 1956 dari negara Indonesia.

Selama 1.5 bulan sebelum debat, Ibu Ratnati sudah di Amerika Serikat mengikuti jadwal sekolah di 3 tempat terpisah di sana.

Mana videonya ?

Yang penasaran dengan videonya, ini videonya :

Apa itu Prejudice ?

Prejudice dalam bahasa Inggris diartikan sebagai Prasangka.

Kalau kita cari lagi definisinya dari Merriam-Webster

a feeling of like or dislike for someone or something especially when it is not reasonable or logical

seperti terdengar familiar kan ?

Prejudice tidak lain dari prasangka buruk yang didapat dari persepsi dan asumsi.

Awalnya Prejudice ini berkaitan dengan prasangka berdasarkan ras. (seperti yang kita lihat di video diatas).

Kemudian prasangka ini berkembang terkait dengan pandangan sekilas terhadap orang lain, tidak hanya melulu mengenai ras.

Dan prejudice ini merupakan hasil dari prasangka karena pengalaman dangkal,cerita, dan pengamatan yang tidak lengkap dan tidak rasional.

Seperti misalnya ketika kita melihat seseorang yang berbicara dengan volume suara yang keras, maka kita menyangka orang tersebut tidak sopan dan tidak dididik dengan baik. Padahal mungkin dia berasal dari daerah yang memang cara berbicaranya seperti itu.

Atau kalau misalnya di sebuah pusat perbelanjaan. Ketika melihat orang masuk cuma dengan memakai celana pendek dan sandal jepit, maka prasangka kita adalah orang tersebut orang miskin yang tidak akan bisa beli sesuatu.

Kalau di video diatas maka prejudice/prasangka itu terhadap bangsa/ras.

Dahulu orang Inggris memandang orang di wilayah jajahannya adalah orang yang malas, dan mereka menjajah karena ingin mengangkat dan menolong orang di wilayah jajahannya.

Sementara orang yang berada di wilayah jajahannya merasa bahwa orang Eropa terlalu sombong dan angkuh.

Apakah ini wajar ?

Secara natural ini wajar sebenarnya.

Manusia adalah makhluk yang mempunyai emosi dan logika.

Emosi terbentuk dari didikan, nilai, pengalaman, dan juga penilaian terhadap diri sendiri dan orang lain.

Termasuk prasangka.

Prasangka merupakan hasil dari didikan, nilai, pengalaman, dan juga penilaian kepada diri sendiri dan orang lain, yang tentunya tidak sesederhana kelihatannya.

Ada komponen interaksi sosial, edukasi, pemahaman, dan lain sebagainya.

Apakah perlu diminimalisir ?

Tentu saja perlu, prasangka akan cukup mengganggu jiwa kalau dibiarkan berlarut-larut.

Asumsi buruk yang menyebabkan prasangka tentunya akan mengakibatkan hubungan yang buruk dengan orang lain, menyita pikiran kita, dan juga menyebabkan rentetan prasangka-prasangka lain yang mungkin lebih berbahaya.

Meminimalisir prasangka tentu saja dengan mengobati masalah utamanya, yaitu dengan :

  • pengamatan yang lebih lengkap.
  • menggunakan pikiran yang rasional.
  • melakukan diskusi langsung dengan orang yang kita prasangkai.
  • melihat masalahnya dari sisi objektif.

Kalau setelah melakukan hal diatas, ternyata prasangka yang kita “duga” itu benar, maka barulah kita bisa melakukan “pembenaran” terhadap prasangka kita tersebut.

Prasangka vs Waspada

Ada kalanya orang berpendapat bahwa prasangka adalah sebuah mekanisme dari diri manusia untuk waspada.

Hmm, bisa jadi..

Prasangka yang sudah terbukti, bisa jadi menjadi masukan bagi orang lain yang belum mengalaminya.

Tetapi belum tentu kejadian, pengalaman, didikan, dan persepsi orang tersebut sama dengan kejadiaan, pengalaman, didikan, dan persepsi dari orang yang pertama ber prasangka itu.

Sehingga tetaplah sebuah prasangka dijadikan masukan saja, tetapi tetap ada porsi kritis dari kita untuk mempertanyakan “kebenarannya”.