Pendahuluan

Apa itu Growth Mindset bisa dilihat di sini


Kenapa mindset ini menjadi terkenal ?

Hmm, kalau kita lihat ide Growth Mindset ini biasa saja bukan ??

Bekerja keras untuk mengatasi masalah yang ada, mengubah strategi, atau meminta bantuan/feedback dari orang lain ketika menghadapi jalan yang buntu.

Sepertinya sifat ini ada di setiap orang..

Tapi tunggu, tidak semua orang memiliki pemikiran yang sama sebenarnya.

Kita tidak bisa pungkiri bahwa pasti ada segolongan orang yang tidak suka dengan effort/usaha yang lebih keras, mengubah cara dengan cara yang baru dalam menyelesaikan masalah.

Atau bahkan enggan meminta bantuan/feedback dari orang lain ketika mengalami jalan yang buntu.

Biasanya lingkungan lah yang memaksa kita untuk menjadi orang yang bersifat Fixed Mindset atau Growth Mindset tersebut.

Baik dari lingkungan keluarga , sekolah, maupun lingkungan organisasi atau perusahaan kita.

Bagi kita orang dewasa, maka kita bisa memilih dan memilah lingkungan mana yang kita bisa pakai dan cocok bagi tipikal mindset kita.

Sehingga walaupun lingkungan kita tidak mendukung, tetapi kita tetap bisa melanjutkan dengan cara kita sendiri.

Akan tetapi bagi anak-anak, maka keluarga dan sekolah akan menjadi lingkungan yang sangat mempengaruhi.

Masa anak-anak dan remaja yang mungkin masih labil akan sangat terpengaruh dengan pergantian mindset seperti ini.


Oke, kembali lagi ke penelitian Carol Dweck, si pengarang buku tentang Growth Mindset ini.

Coba kita kaitkan pengaruh lingkungan dan penelitian Carol Dweck ini.

Beliau menyatakan ada beberapa kebiasaan yang membuat siswa sekolah menjadi terkungkung dalam Fixed Mindset, seperti :



1. Melabeli seorang siswa dengan label tertentu, ketika mereka menemui jalan buntu dalam belajar.

Memberikan label kepada seorang anak sebagai Anak bodoh, atau Kamu tidak berbakat di bidang Matematika, atau contoh lain :

  • Kenapa sih kamu nggak ngerti-ngerti saja dari tadi.
  • Kamu bikin malu Mama saja, ujian Matematika jelek banget ini.

atau misalnya yang agak lunak :

  • Nggak apa-apa, mungkin Fisika bukan kemampuan terbaikmu nak.
  • Tidak semua orang bagus di Matematika, akui saja.

Hal diatas sebenarnya adalah memutus motivasinya dalam belajar sesuatu yang bisa saja berubah di lain waktu.

Kita tidak mengeyampingkan masalah kemampuan seseorang yang memang bawaan dari sononya, akan tetapi yang kita bahas lebih kepada mindset seseorang tentang bagaimana dia bisa belajar dengan motivasi bahwa kemampuan dan kecerdasannya bisa berkembang.

Mungkin bisa digunakan kata-kata :

  • Di bagian ini, mana yang kamu kesulitan memahaminya ?
  • Apa yang bisa Ibu bantu agar kamu bisa memahaminya ?
  • Saat ini mungkin pelajaran Fisika ini sulit, tapi pelan-pelan dengan membaca, belajar dan bertanya, kamu akan bisa.
  • Saat kamu kesulitan memahaminya, maka itu berarti otak kamu berkembang dan lebih kreatif.


2. Memberi pujian terhadap siswa karena hasil saja, bukan proses

Misalnya berkata :

  • Kamu hebat, jadi Juara 1 kebanggaan orangtuamu.
  • Nilaimu bisa 9 , tidak ada yang bisa mengalahkanmu di kelas.

Kata-kata ini memuji siswa karena hasilnya, sementara prosesnya tidak.

Penonjolan hasil di pujian diatas terkadang merupakan kata-kata berbahaya yang kalau di sampaikan berulang kali ke setiap siswa yang berprestasi.

Anak tersebut bisa berpikiran bahwa yang penting hasilnya bagus, entah dengan cara apapun.

Efeknya lagi, kegagalan menjadi sesuatu yang memalukan bagi mereka, karena terbiasa dipuji karena hasilnya saja.

Efek lainnya lagi, bisa jadi mereka tidak mau mencoba yang berisiko, karena tidak tahu pasti hasilnya apakah berhasil atau gagal.

Hal ini yang kadang kita hadapi di era sekarang ini, dimana orang tua terkadang hanya menyerahkan proses pendidikan anak ke sekolah-sekolah mahal, tanpa mengetahui proses didikan di sekolah, sehingga pujian hanya tertuju kepada hasilnya saja.

Mungkin bisa digunakan kata-kata :

  • Bagus sekali, bisa ceritakan bagaimana cara mencapainya, kesulitan yang dihadapi dan pendapat kamu dalam mencapainya.

Atau kalau mereka mengalami kesulitan :

  • Ayo kita lihat apa yang telah kakak pelajari, dan apa yang bisa kita lakukan selanjutnya.


3. Memberi pujian terhadap siswa karena usaha nya saja, lalu tidak menghargai proses berpikir dan belajarnya.

Misalnya ketika berkata :

  • Great job nak, kamu telah berusaha keras.
  • Lihat teman kamu, dia berusaha keras untuk mengerti hal itu.

Memberi pujian bagi siswa yang telah berusaha keras adalah bagus, tetapi ketika mereka berusaha dengan cara yang itu-itu saja, maka mereka artinya tidak belajar.

Memberi pujian hanya dengan tujuan menyenangkan siswa pada saat itu cukup mulia, tetapi mereka tidak akan bertumbuh dan berkembang.

Memberi pujian bagi siswa tetapi tidak menggali lebih dalam lagi mengenai bagaimana mereka belajar, bagaimana proses belajar, dan pemahaman konsep siswa dalam sebuah pembelajaran, akan membuat siswa menjadi bosan dan tidak efektif.

Hal itu bukanlah yang diinginkan di konsep Growth Mindset ini.

Growth Mindset artinya ada proses belajar/strategy yang lebih baik, dengan cara mengevaluasi proses yang selama ini dilakukan.

Mengevaluasi apa yang mereka pikir sulit dan mereka menemukan jalan buntu, apa yang mereka susah memahaminya dan apa yang bisa mereka lakukan selanjutnya dengan bantuan orang lain membuat siswa bisa merasa berproses dalam belajar.

Misalnya :

  • Good job, coba ceritakan apa yang sudah kamu ketahui, dan coba kita lihat apa yang perlu diperbaiki.
  • Bagus sekali pekerjaannya, ada kesulitan dan pengalaman menarik yang bisa kamu bagikan terkait pekerjaan/pelajaran ini ?
  • Kamu perlu saran dari Ibu agar bisa belajar lebih mudah ?

Membuat siswa merasa bahwa usaha itu selalu dibarengi dengan belajar dengan cara yang lebih efektif dan lebih baik akan membuat mereka lebih tangguh ketika menghadapi tantangan masa depan, dan tentunya lebih kreatif dalam menghadapi masalah nantinya.


4. Menutupi kesenjangan pencapaian, dengan bilang semua orang pintar, untuk menyenangkannya.

Misalnya ketika berkata :

  • Tidak apa-apa nak, kamu juga hebat kok. Semua orang disini hebat kok !

Hal diatas sering kita ucapkan ketika melihat siswa atau anak kita tidak berhasil dalam sebuah pencapaian belajar misalnya.

Bagus memang, meningkatkan kembali rasa percaya diri dari seorang anak mengenai dirinya.

Akan tetapi Growth Mindset ini bertujuan untuk transparansi, yaitu sebisa mungkin memperpendek jurang pencapaian antara siswa, dan bukan menyembunyikannya.

Mungkin tentunya setelah pujian tersebut, bisa ditambahkan :

  • Ibu lihat kamu kurang pahamnya nya di bagian yyyy, kita bisa diskusikan lagi bagian yyyy tersebut.?
  • Dari hasil tadi, ada yang kamu kurang sreg yang sulit kamu selesaikan ?

Kesimpulan

Fixed Mindset dan Growth Mindset sebenarnya selalu berada di dalam diri kita , anak-anak kita, guru-guru kita dan semua orang di dunia ini.

Tidak ada orang yang fully 100% adalah bertipe Growth Mindset, begitupun sebaliknya.

Ada pemicu agar kita bisa memilih salah satu dari mindset tersebut untuk kasus tertentu.

Penelitian Carol Dweck mengenai mindset ini bertujuan untuk memperpendek jurang pencapaian antara siswa di sekolah.

Ada bebarapa kasus yang diangkat oleh Carol Dweck sekaligus merupakan kritik terhadap cara kita dan pendidik dalam mengajarkan mindset untuk selalu berkembang dan belajar, seperti yang dipaparkan diatas.

Tapi ujung-ujungnya memang, manusia adalah makhluk Tuhan yang kompleks, diciptakan berbeda, dan kita berupaya untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Itu saja..

Kita lanjut ke part 3